3 Penyakit Ancam Korban Bencana Tsunami di Pengungsian, Apa Sebabnya?


JawaPos.com – Sudah hampir sepekan tragedi Tsunami Selat Sunda dan membuat puluhan ribuan orang harus berada di pengungsian. Situasi pengungsian yang padat membuat para pengungsi mulai terancam berbagai penyakit.

Saat ini terdapat puluhan ribu pengungsi baik di Propinsi Banten maupun Propinsi Lampung. Pada hari ke-7 di Kab Pandeglang saja lebih dari 33 ribu pengungsi.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB menjelaskan ada beberapa penyakit yang mengancam para pengungsi. Hal itu tentu sudah diantisipasi oleh para tim medis di lokasi.

“Dari beberapa teman dokter dan laporan dari beberapa lokasi bencana tedapat 3 penyakit utama yang ditemukan dipengungsian yaitu Diare, Infeksi saluran nafas atas (ISPA), dan gangguan kulit berupa keluhan gatal-gatal,” papar dr. Ari dalam keterangan tertulis, Minggu (30/12).

Lalu apa penyebabnya?

Padatnya Pengungsian

Saat ini memang sebagian besar dari tempat pengungsian padat dengan pengungsi terutama pada malam hari.
Anak-anak tentu juga ikut di dalam pengungsian.

Mandi Cuci Kakus (MCK) Seadanya

Permasalahan lain adalah kondisi Mandi Cuci Kakus (MCK) yang kurang memadai belum lagi kebersihan lokasi pengungsian yang kurang diperhatikan. Oleh karena itu masalah kebersihan dan kesehatan lingkungan bagi para pengungsi harus menjadi perhatian.

“Kita harus maklum para pengungsi terutama orang tua dan anak-anak merupakan kelompok masyarakat yang rentan terhadap berbagai penyakit,” tegasnya.

Daya Tahan Tubuh

Faktor-faktor yang berperan terjadinya penyakit adalah faktor daya tahan tubuh, faktor kuman dan faktor lingkungan. Faktor daya tahan tubuh, jelas saat daya tahan tubuh para pengungsi dapat menurun mengingat kondisi makan dan minum yang kurang memadai, selain itu faktor istirahat yang terbatas.

Cemas dan Trauma
Dalam kondisi rasa cemas akan berulangnya bencana Tsunami atau meletusnya gunung berapi Anak Krakatau, belum lagi memikirkan harta benda yang hilang atau hilangnya anggota keluarga tercinta, menyebabkan para pengungsi tidak bisa beristirahat dengan tenang. Kondisi stres sendiri tentu juga akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang, karena stress membuat orang kurang nafsu makan dan susah tidur.

Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang tidak sehat juga tentu menyebabkan kondisi para pengungsi menjadi rentan terjangkit penyakit infeksi. Sampah yang berserakan dan kondisi MCK yang terbatas akan sangat mempengaruhi kondisi para pengungsi.

“Oleh karena itu harus diambil langkah-langkah untuk mengurangi penderitaan para pengungsi dan mengurangi dampak buruk akibat kondisi daya tahan tubuh yang menurun dan kondisi pengungsian yang tidak memadai,” kata dr. Ari.

(ika/JPC)





Link sumber berita

Penulis :

Tanggal posting : 2018-12-30 08:20:19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *