BPOM Percepat Registrasi Perizinan Obat-Makanan


JawaPos.com – Regulasi perizinan obat dan makanan di Badan Pengendali Obat dan Makanan (BPOM) sudah diperbaiki. Diharapkan, waktu untuk registrasi semakin singkat. Dengan begitu, tahun depan semakin banyak obat dan produk makanan yang teregistrasi di BPOM.

Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2019 memerintah BPOM untuk melaksanakan pengendalian keamanan, khasiat/manfaat, serta mutu obat dan makanan sebelum beredar hingga setelah beredar. Tujuannya, mencegah, mendeteksi, dan merespons potensi adanya wabah pada pangan dan obat.

’’Perizinan terkait dengan sarana pembuatan obat, integrasi sertifikasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB) ke dalam online single submission (OSS) sejak 2018 telah mempersingkat proses dari 84 hari kerja (HK) menjadi 35 HK,’’ ungkap Kepala BPOM Penny K. Lukito.

Upaya percepatan perizinan melalui pemenuhan janji layanan atau service level agreement (SLA) telah meningkat. Misalnya, di bidang obat tradisional, suplemen kesehatan, dan kosmetik, percepatan perizinan dilakukan dengan pemangkasan timeline registrasi/notifikasi. Salah satunya, timeline registrasi obat tradisional dan suplemen kesehatan untuk ekspor yang kini hanya 3 HK dari semula 30 HK.

Bidang lain adalah perizinan pangan olahan dan hasil kajian berbasis risiko dengan penerapan tanda tangan elektronik (TTE). ’’Ini memangkas timeline registrasi notifikasi dari 10 HK menjadi 5 HK,’’ tuturnya.

Selain dukungan kemudahan berusaha untuk produksi dan distribusi obat dan makanan dalam negeri, BPOM melakukan deregulasi untuk mempermudah ekspor. Penny menuturkan, berdasar data penerbitan surat keterangan ekspor (SKE), produk obat asal Indonesia telah diekspor ke 48 negara. ’’Jumlah yang diekspor sebanyak 1.001 produk yang dihasilkan oleh 58 industri farmasi di Indonesia,’’ ujarnya.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *