Cerita Akhir Pekan: Jajanan Pasar dan Eksistensinya di Kalangan Anak Muda



Liputan6.com, Jakarta – Mulai dari manis hingga gurih, berbentuk bulat maupun lonjong, ditambah warna-warni menggugah selera, magnet jajanan pasar sebagai daya tarik tak lagi diragukan. Nama sajian yang identik dengan camilan ini sudah harum sejak lama dan mengemban kultur dalam jangka waktu panjang, sangat panjang.

“Jajanan pasar itu sudah ada dari zaman kerajaan Hindu. Bisa dilihat di relief (candi), ada makanan yang dibungkus memakai daun pisang. Ada juga di prasasti yang menyebutkan jajan pasar sebagai sajen dalam ragam upacara adat,” jelas penulis kuliner, Kevindra Soemantri, lewat sambungan telepon pada Liputan6.com, Kamis, 12 September 2019.

Panjang usia jajanan pasar membuat eksistensinya di kalangan anak muda selalu menarik untuk dikulik. Terlebih, industri kuliner memang dikenal sangat cepat berkembang dengan ragam inovasi dalam timeline cukup ngebut.

Novia Eka Wulandari, salah seorang anak gen Z mengatakan, besar di era modern tak membuatnya ‘buta’ akan jajanan pasar. “Masih (makan jajanan pasar). Apalagi, kalau lagi di Yogyakarta. Pasti kalau pagi ke pasar buat jajan,” katanya saat ditemui di bilangan Jakarta Timur, Jumat, 13 September 2019.

Begitu pula dengan milenial seperti Monica Ayu Lestari dan Yoca Gumilang. Keduanya mengaku masih sangat familiar dengan jajanan pasar, bahkan punya camilan favorit. “Saya suka kue putu ayu, kue cincin, kue isi kacang hijau yang bentuknya ada cabai, terong, gitu-gitu, dan kue lumpur. Enak semua,” katanya lewat pesan singkat, Jumat, 13 September 2019.

Soal eksistensi, Yoca mengatakan, dirinya yang tinggal di Depok, Jawa Barat, masih sering mendapati jajanan pasar. “Tapi, lebih banyak yang dimodifikasi buat ngikutin perkembangan zaman,” kataya.

“Walau ada beberapa yang hampir punah karena resep atau cara pembuatannya nggak diwarisi. Juga, karena agak susah di bahan atau pembuatan. Sampai untung-ruginya jajanan buat dijual,” sambung lelaki kelahiran 1991 ini.

Monic pun bercerita pengalamannya berburu salah satu jenis jajanan pasar yang sudah cukup jarang ditemui. “Mama suka banget sama kue bikang, sementara di Serpong susah banget buat cari penjual kue bikang. Jadinya kita muter-muter. Tapi, akhirnya tetap nggak nemu (kue bikang),” tuturnya.

 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *