Mengenal Lebih Jauh Obat Pengencer Darah Aspirin dan Efek Sampingnya


JawaPos.com – Obat pengencer darah biasa diberikan kepada pasien jantung dan stroke. Salah satu yang sering diberikan adalah Aspirin.

Obat pengencer darah bekerja mencegah terjadinya penggumpalan darah di pembuluh darah. Gumpalan darah bisa menyumbat aliran darah ke otot jantung dan menyebabkan serangan jantung. Bekuan darah juga bisa menghadang aliran darah ke otak, sehingga akhirnya menyebabkan stroke.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB mengulas dalam aplikasinya ‘Apa Kata Dokter’, Aspirin merupakan obat populer yang paling banyak diresepkan oleh dokter jantung, dokter penyakit dalam atau dokter spesialis saraf. Obat pengencer darah ini menjadi obat yang umum dikonsumsi pada pasien-pasien yang diketahui ada sumbatan pada pembuluh darah, baik otak maupun jantung, bahkan yang sudah dipasang ring.

“Kita tahu bahwa salah satu penyebab kematian utama umat manusia adalah penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah otak. Obat pengencer darah seperti Aspirin menjadi sangat bermanfaat baik untuk pencegahan primer maupun pencegahan sekunder,” katanya baru-baru ini.

Menurut dr. Ari, konsumsi aspirin dosis rendah bermanfaat untuk mengurangi kejadian serangan jantung dan menurunkan kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Tetapi perlu diketahui bahwa obat yang sangat bermanfaat ini juga bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.

Efek Samping

Aspirin dapat menyebabkan penurunan kadar prostaglandin lambung sehingga berakibat penipisan pada dinding lambung. Selain itu, penggunaan aspirin juga bisa menyebabkan perlukaan pada saluran pencernaan lain.

Oleh karena itu, tahun lalu dilakukan penelitian pada pasien-pasien yang mendapatkan aspirin atau dikombinasi dengan obat pengencer darah lainnya. Penelitian ini secara lengkap dipublikasikan di Jurnal Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology and Digestive Endoscopy, jurnal nasional berbahasa Inggris terakreditasi DIKTI.

Penelitian tersebut dilakukan pada pasien yang berumur di atas 18 tahun dan mengonsumsi aspirin dosis rendah (75-325 mg/hari). Pasien pun sudah menggunakan obat lebih dari 28 hari, lalu dilakukan pemeriksaan endoskopi saluran cerna atas di Pusat Endoskopi Saluran Cerna Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM.

Pemeriksaan ini tidak melihat ada atau tidaknya gangguan pada lambung. Hasil pemeriksaan endoskopi ternyata telah terjadi gangguan lambung dan atau usus dua belas jari pada 51,6 persen pasien yang diperiksa. Kelainan yang didapat berupa luka erosi lambung sebanyak 40 persen dan 11,6 persen kelainan berupa tukak atau ulkus dari kasus yang diperiksa. Yang menarik hanya 44,9 persen yang mengeluh gangguan pada lambung padahal ditemukan luka pada lambungnya.

Analisa lebih lanjut pada kasus yang diteliti ternyata penggunaan dua obat pengencer darah sekaligus membuat risiko kerusakan lambung dan usus dua belas jari meningkat lebih dari 3 kali. Pasien yang menggunakan aspirin di atas 65 tahun ternyata lebih berisiko terjadinya kerusakan lambung atau tukak lambung atau usus dua belas jari dibandingkan pasien di bawah umur 65 tahun. Penghambat pompa proton obat yang bekerja untuk menekan produksi asam lambung ternyata mengurangi risiko terjadinya luka pada lambung atau usus dua belas jari tersebut.

“Hasil penelitian ini mengingatkan kembali tentang efek samping dari obat-obat pengencer darah yang sudah umum dikonsumsi masyarakat kita mengingat semakin meningkatnya penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah otak di tengah masyarakat kita,” paparnya.

(ika/JPC)





Link sumber berita

Penulis :

Tanggal posting : 2018-12-28 09:34:37

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *