New Normal Bawa Angin, Monetisasi Di Sektor Digital Makin Cepat


JawaPos.com – Kondisi new normal yang akan dijalani masyarakat Indonesia tak lama lagi diprediksi akan membuat investasi industri telekomunikasi untuk infrastruktur digital lebih cepat termonetisasi. Hal tersebut karena karena peran teknologi informasi menjadi strategis untuk mengatasi penerapan physical distancing.

Telkom disebut sebagai pihak yang paling bakal merasakan dampak positif ini. Direktur Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan Telkom sejak lima tahun lalu konsisten menggelontorkan investasi yang besar membangun infrastruktur digital mulai dari satelit, Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) lokal dan internasional, last mile berupa BTS dan kabel optik, hingga aplikasi-aplikasi yang menunjang gaya hidup digital.

“Di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kita baru merasakan manfaat dari infrastruktur yang dibangun Telkom atau operator seluler. Tadinya mungkin kebutuhan sekunder, sekarang menjadi primer. Konsistensi dalam investasi besar di infrastruktur digital itu akan makin cepat return-nya di masa pandemi ini,” katanya melalui keterangan resminya kepada JawaPos.com.

Dia melanjutkan, walau ada pandemi, Telkom tetap konsisten menggelontorkan belanja modal besar membangun infrastruktur digital. Mengingat pandemi telah mengubah perilaku masyarakat yang kian nyaman menggunakan teknologi digital.

“Kan sedih dengar Mendikbud dicurhati ibu-ibu nggak ada akses internet untuk belajar dari rumah. Sekarang kan kelihatan infrastruktur digital yang menjangkau hingga desa ya punya Telkom. Ini akan membuat utilisasi infrastruktur yang dibangun akan maksimal,” imbuhnya.

Mengutip Laporan Keuangan Telkom untuk 2019, Total belanja modal Perseroan pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp 36,59 triliun atau 27 persen dari total pendapatan. Belanja modal tersebut terutama digunakan untuk meningkatkan kapabilitas digital dengan terus membangun infrastruktur broadband yang meliputi BTS 4G LTE, jaringan akses serat optik ke rumah, jaringan backbone serat optik bawah laut dan terestrial, serta sebagian juga untuk keperluan bisnis menara.

“Kalau dilihat lima tahun ke belakang selalu belanja modal Telkom itu alokasinya sekitar 25 persen dari total pendapatan. Keberanian mengalokasikan belanja modal yang besar ini menjadikan Telkom berada pada jalur yang tepat untuk menjadi Digital Telecommunication Company,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada menyatakan, jika melihat kinerja Telkom di 2019 membuktikan jargon bisnis halo-halo sudah sunset alias mulai mati adalah hal yang salah.

“Bisnis ‘Halo-halo’ nggak akan sunset selama pelaku usahanya mampu menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Inovasi digital ke depan semakin berkembang dan maju. Jadi kalau operator mampu bersaing dan bertahan dengan kondisi yangada maka mereka bisa tetap survive,” terangnya.

Dalam catatan, kinerja Telkom sepanjang 2019 yang meraih keuntungan sebesar Rp 18,6 triliun sepanjang 2019 naik tipis 3,5 persen dibandingkan periode 2018 sebesar Rp 18 triliun. Kinerja Telkom di 2019 bisa dikatakan paling kinclong dibandingkan Indosat dan XL.

XL Axiata meraih laba bersih sebesar Rp 713 miliar sepanjang 2019 berbanding terbalik dengan kondisi di 2018 yang mengalami kerugian Rp 3,29 triliun. Indosat Ooredoo berhasil membukukan laba sebesar Rp 1,6 triliun di 2019 berbanding terbalik dengan posisi 2018 yang mengalami kerugian Rp 2,4 triliun.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »