Rencana Menikah Kandas Dihempas Tsunami



Lampung: Apriansyah, 25, warga Dusun III, Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, hanya bisa duduk termenung.

Tatapannya kosong memandang lautan. Sesekali ia menyeka air mata yang menetes lantaran mengingat kebersamaan dengan keluarga di rumahnya yang telah rata tersapu oleh ombak.



Duka Apriansyah semakin dalam karena tiga anggota keluarganya meninggal dunia saat tsunami melanda Selat Sunda, Sabtu, 22 Desember 2018. Ayahanda Masjaya, 54, ibunda Eliana, 45, dan nenek Rumsiah, 80, meregang nyawa diterjang ombak dan puing-puing bangunan.

“Di rumah ada sembilan orang. Saat kejadian kami semua di rumah karena itu jam istirahat. Tiba-tiba ombak datang. Yang pertama tidak begitu besar. Tidak lama, ombak kedua datang, tinggi sekali, melebihi tinggi rumah,” ujar Apriansyah, seperti diberitakan Media Indonesia, Senin, 31 Desember 2018.

Apriansyah berencana menikah di awal Februari 2019. Akhir tahun ini seyogianya ia mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan jelang hari istimewanya itu. Namun, takdir tak berpihak, ia masih larut dalam duka.

“Harusnya sudah siap-siap, tetapi mau bagaimana? Orang tua sudah pergi, rumah pun tidak ada,” ujarnya pasrah.

Jangankan berpikir tentang pernikahannya, Apriansyah mengaku saat ini tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup. Satu-satunya kapal yang ia gunakan untuk menyambung hidup hancur berkeping.

Sejak kejadian, ia lebih banyak merenung. Luka-luka di sekujur tubuh pun sudah tidak lagi dirasa. “Seandainya kapal masih ada, mungkin saya masih bisa melaut,” harapnya.

Baca: 2018 Jadi Pelajaran Penanggulangan Bencana

Apriansyah dan nelayan lain yang tinggal di bibir pantai Desa Way Muli mengungsi di kaki gunung. Saat ini mereka mengandalkan bantuan dari para donatur untuk bertahan. Mereka pun berharap pemerintah memberi bantuan kapal dan membangun kembali rumah. 

“Kalau bisa, tetap di pinggir pantai saja, di situ kita cari makan. Kalau dipindah jauh dari laut, kami bingung,” ucap dia.

Bantuan terhadap korban tsunami di Lampung terus berdatangan. Gubernur Sumatra Selatan (Sumsel)  Herman Deru pun mengirim personel Tagana Provinsi Sumsel untuk membantu.

Deru berpesan agar mereka membantu korban sekuat tenaga tanpa memandang agama, suku, ras, dan status sosial korban. “Bila perlu, kita kirim alat berat kalau memang diperlukan,” jelas dia.

Pemerintah Provinsi Sumsel juga mengirimkan dapur umum. Per hari dapur itu akan menyiapkan sedikitnya 600 porsi makanan bagi pengungsi.

(OGI)





Link sumber berita

Penulis : Dwi Apriani

Tanggal posting : 2018-12-31 15:13:08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *