Terawan Jadi Harapan Baru Benahi Dunia Kesehatan


JawaPos.com – Presiden Joko Widodo memilih dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad (K) sebagai Menteri Kesehatan pada 22 Oktober 2019. Nama Terawan sudah tak asing bagi masyarakat karena selama ini dia dikenal sebagai dokter militer yang menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Terawan sebelumnya juga sering bolak-balik ke lingkungan istana sebagai tim dokter kepresidenan.

Pria berkaca mata ini juga sempat ditunjuk Presiden Jokowi untuk membantu Ani Yudhoyono saat menjalani pengobatan kanker darah di Singapura beberapa waktu lalu. Selain itu Terawan juga beberapa kali mendampingi pengobatan almarhum Presiden ke-3 Baharuddin Jusuf Habibie.

Pria kelahiran, Jogjakarta, 5 Agustus 1964 ini setelah lulus sekolah menengah atas, dia melanjutkan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Ia berhasil lulus sebagai dokter pada 1990 saat usianya menginjak 26 tahun. Sosok Terawan sempat menjadi polemik saat dia berkasus dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) selama Februari-Maret 2019.

Saat itu metodenya berupa ‘cuci otak’ pasien stroke dianggap melanggar etik. Akibatnya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menjatuhkan sanksi etik. Metode terapi cuci otak itu dikenal dengan DSA (Digital Substraction Angiogram). Metode ‘cuci otak’ itu memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha penderita stroke. Hal tersebut dilakukan untuk melihat apakah terdapat penyumbatan pembuluh darah di area otak.

Sanksi yang diberikan dalam surat Pengurus Besar (PB) IDI adalah berupa pemecatan selama 12 bulan dari keanggotaan IDI sejak 26 Februari 2018-25 Februari 2019. Keputusan IDI tersebut diambil setelah sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) PB IDI yang menilai dokter Terawan melakukan pelanggaran etika kedokteran.

Harapan Baru Benahi Sistem Kesehatan

Terawan diharapkan bisa membenahi berbagai sistem kesehatan di Indonesia. Di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Terawan bertekad ingin memperbaiki tata kelola pembiayaan kesehatan melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Keseriusan itu dibuktikan olehnya. Baru dilantik beberapa hari menjadi Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto langsung terjun menyambangi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang selalu mengalami defisit. Upaya penyempurnaan penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) terus digenjot. Salah satu yang dilakukan sebagai langkah awal, Terawan bersedia menyumbangkan gaji pertamanya untuk kas BPJS.

Salah satu hal penting yang dibicarakan dan menjadi fokus kerjanya adalah bicara masalah pembiayaan kesehatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Selain itu, persoalan gizi. Hal itu juga disebutkan dalam pidato visi misi Jokowi-Ma’ruf beberapa waktu lalu di mana Angka Kematian Ibu dan Bayi menjadi fokus.

Pengamat Kesehatan dari Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis berharap Terawan memiliki terobosan-terobosan di bidang kesehatan dan memahami keinginan rakyat. “Terpilihnya Menkes Terawan sepertinya tidak ada lagi ahli kesehatan lainnya. Semua orang pada prinsipnya bisa jadi Menkes. Cuma yang ahli terbatas. (Menkes) tidak perlu ahli, tetapi yang mengerti dan peduli,” tegas Tri Yunis.

Dalam setiap pidatonya, ada 2 hal yang menjadi fokus kerja Terawan. Keduanya adalah isu pembenahan BPJS dan menekan angka balita stunting. Hal itu disampaikannya beberapa kali, yakni saat berpidato serah terima jabatan dengan Menteri Kesehatan sebelumnya, pidato pisah sambut dengan para pegawai di RSPAD Gatot Subroto, saat bertemu dengan pihak BPJS, dan terakhir saat berpidato di Hari Kesehatab Nasional.

Terawan menjelaskan ada dua isu kesehatan utama yang harus diselesaikan terkait membangun SDM yang berkualitas, yaitu stunting dan JKN. Sementara ada dua isu kesehatan lainnya yang juga harus diatasi, yaitu tingginya harga obat dan alat kesehatan, serta masih rendahnya penggunaan alat kesehatan buatan dalam negeri.

“Hal-hal tersebut akan menjadi fokus perhatian kita bersama untuk dapat segera diupayakan solusinya,” kata Terawan.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *