Wawancara Khusus Dengan Juara Dunia Dua Kali Hariyanto Arbi (3-Habis)


JawaPos.com-Selain soal keputusan PB Djarum untuk menghentikan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis mulai 2020, Hariyanto Arbi mengungkapkan opininya terkait sektor tunggal Indonesia saat ini. Kepada Wartawan Jawa Pos Ainur Rohman, Hari juga menceritakan dari mana awal mula julukan smes 100 watt bisa melekat pada dirinya. Ini adalah bagian terakhir dari tiga tulisan.

Selain fasilitas, banyaknya bonus, dan metode latihan, apa yang istimewa dari PB Djarum?
Paling utama ya metode dan sistem latihannya. Di PB Djarum itu, sangat konsisten bagus sejak dulu. Mereka memanggil yang terbaik. Di Djarum, pelatih butuhnya apa, pasti dipenuhin. Misalnya memanggil pelatih fisik dari luar. Lalu pernah fisioterapisnya dari Jepang. Benar-benar full. Di sana ada asrama juga. Malah jauh lebih bagus dari saya dulu.

Dengan fasilitas kelas A, apakah ada jaminan melahirkan atlet kelas dunia?
Kalau bagi saya, memang kembali ke atletnya ya. Kalau fasilitasnya sangat bagus, tapi semangat juangnya kurang, ya tetap saja (tak berprestasi).

Kalau melihat pemain Indonesia sekarang bagaimana? Apa yang membedakan dengan zaman Mas Hari, era keemasan tunggal putra era 1990-an?
Sekarang sih saya melihat daya juangnya kurang ya. Ada sih beberapa yang bagus. Tapi kalau secara keseluruhan, kalu saya melihat memang masih kurang. Memang itu semua dari atletnya sendiri. Kalau dari era saya dulu sih, pemainnya suka nambah latihan sendiri. Bahkan soal latihan, sudah saingan sendiri. Bangun bisa pagi-pagian. Kalau dulu sekolah kan jam 07.00 (WIB). Nah jam 04.00 atau jam 05.00 udah pada bangun, latihan sendiri-sendiri. Nah persaingan itunya yang sekarang agaknya kurang. Mungkin sekarang banyak hiburannya. Kalau dulu zaman saya kan adanya cuma TVRI.

Gambaran latihan atlet-atlet top era 1990-an itu seperti apa? Sekeras apa?
Memang keras sih. Latihan mulai jam 15.00 (WIB) sampai 17.00 itu latihan fisik. Setelah itu istirahat, makan-makan, sambung lagi latihan jam 19.00 sampai jam 21.30. Besoknya, nambah lagi subuh. Setelah itu sekolah jam 07.00 sampai jam 13.00. Tetapi memang waktu itu kami semua termotivasi. Karena kami lihat ada pemain yang latihan keras, ya kami nggak mau kalah. Kalau mereka latihannya tiga kali, saya dua kali, ya mana mungkin menang? Jadi harus bangun pagi juga, latihan keras juga.

Di PB Djarum waktu itu, siapa yang menjadi patokan? Siapa yang menjadi standar untuk mengejar juara?
Patokannya Liem Swie King. Contohnya ya dia terus. Kalau mau juara, ya latihannya harus seperti Swie King. Jangan mau kalah. Kalau lawan latihan dua kali, kami harus tiga kali. Dan kalau lawan latihannya tiga kali, ya kita kalau bisa latihannya empat kali. Sejak dari kecil sudah ditanamkan seperti itu. Kalau mau jadi juara, latihannya harus lebih keras dari yang lainnya. Itu yang selalu saya tangkap dari pelatih saya.

Itu yang membuat tunggal putra kita kuat-kuatnya di dunia?
Betul. Lawan teman sendiri saja rasanya susah. Memang persaingannya ketat sekali. Tapi, prestasi yang paling berkesan bagi saya waktu juara All England 1993. Karena waktu itu acuannya ke Liem Swie King. Kalau sudah juara All England, wah segalanya lah. Pada All England 1993, saya ngalahin Joko Suprianto. Lalu juara lagi 1994 (mengalahkan Ardi B. Wiranata). Tahun 1995, saya kalah di final (dari Poul-Erik Hoyer Larsen).

Kira-kira bisa nggak tunggal putra kita sekarang menyamai pencapaian generasi emas 1990-an?
Hmmmm….Kalau saya lihat ya sekarang tinggal Jonatan (Chistie) sama (Anthony Sinisuka) Ginting itu. Tetapi sampai sekarang mereka masih belum stabil. Masalahnya sih bukan teknik. Fisik sih ada kurangnya, harusnya memang lebih bisa tahan lagi. Tapi gini, biasanya kalau sudah nembus juara beberapa kali itu, pemain bisa stabil. Yang susah itu waktu mau nembus batasan mau juara. Memang ada sugesti tinggi sekali untuk menjadi juara. Kalau sudah beberapa kali juara, rasanya main itu enak banget. Pedenya, semuanya. Enak banget. Ya memang harus bisa nembus juara. Kalau sudah konsisten juara, pasti Jonatan sama Ginting akan bisa sangat stabil.

Soal lain, dari mana julukan smes 100 watt itu berasal?
Begini ceritanya. Waktu ada turnamen di Malaysia saya sekamar dengan Ardi BW (B. Wiranata). Saya lupa tahunnya. Pagi-pagi sebelum pertandingan di Malaysia, Ardi kalah sama Rashid Sidek. Nah, jarang-jarang kan orang bisa ngalahin Rashid di Malaysia. Pagi-pagi, waktu breakfast, kami ngobrol-ngobrol. Biasa lah, sesama temen, cerita kira-kira mau main gimana nih. Saya bilang ke Ardi, kamu kan smesnya 5 watt, mana bisa menang! Ntar malem lihat nih, smas 100 watt. Eh ndilalahe, ada wartawan apa di belakang saya itu. Ternyata malamnya saya menang di Kuala Lumpur. Soalnya memang jarang ada yang bisa ngalahin Rashid. Makanya, julukannya jago kandang. Malam itu menang, setelah itu besoknya ditulis. Muncullah julukan smes 100 watt itu. Itulah awalnya. Di All England saya julukannya malah jumping jack, mainan yang bisa dimentalin itu. Setelah ditulis smes 100 watt, terkenalnya jadi smes 100 watt. Tidak jumping jack lagi.

Kembali ke soal PB Djarum. Selama 19 tahun berada di PB Djarum, kenangan terbaik soal klub ini apa?
Kenangan yang tak terlupakan ya dari keluarga saya sendiri. Saya ini kan dari keluarga yang susah. Sesusah apa? Ya pokoknya susah lah. Makanya, kalau nggak ada PB Djarum, saya nggak tahu mau gimana. Saya merasa berutang budi. Dari zaman Hastomo (Arbi) dulu, istilahnya kalau masuk Djarum tanggungan keluarga hilang satu. Karena semuanya difasilitasi. Dulu kan ada jatah makan, sampai makannya lebih-lebih. Hastomo misalnya. Kalau ada telur yang lebih, malah dia bawa pulang untuk dimasak. Memang susah sih, rumah saja masih ngontrak. Baru setelah Hastomo juara dan juara, kondisi ekonomi bisa lumayan. Karena yang membelikan rumah untuk kita ya Hastomo itu. Kalau saya sih merasa diselamatkan oleh PB Djarum. Karena dari bulu tangkis, Hastomo bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah yang sampai sekarang kami tinggalin ini (habis).





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *